PENYAKIT PADA TERNAK SAPI

PENYAKIT ANTRAX (RADANG LIMPA)
Penyakit ini tergolong zoonosis disebabkan oleh bakteri Basillus anthracis. Kuman Antrax dapat membentuk spora  dan tahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah, tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, bahan kimia dan  desinfektan. Oleh sebab itu hewan yang mati karena  Antrax dilarang untuk dilakukan pembedahan pada bangkainya agar tidak membuka peluang bagi organisme ini membentuk spora.



Faktor yang mempercepat penularan penyakit ini adalah musim panas, kekurangan makanan dan keletihan. Penularan dari hewan ke hewan terjadi lewat makanan dan minuman yang tercemar bakteri antrax. Infeksi pada hewan juga dapat berasal dari tanah yang tercemar spora Antrax.  Bakteri Antrax masuk ke dalam tubuh hewan melalui luka, terhirup bersama udara atau tertelan bersama makanan dan minuman.

Penularan antrax ke manusia umumnya terjadi secara langsung yaitu kontak dengan hewan penderita melalui luka,  atau bahan asal hewan seperti bulu yang melalui pernafasan dan melalui saluran pencernaan bagi orang yang memakan daging hewan penderita Antrax.

Gejala klinis yang dapat diamati pada hewan :

  • Umumnya bersifat akut dan per-akut disertai infeksi menyeluruh
  • Kematian mendadak
  • Demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk
  • Diare
  • Peradangan pada Limpa
  • Perdarahan berwarna hitam pekat  seperti teer  dari lubang–lubang  kumlah (lubang hidung, lubang anus, pori-pori kulit)
  • Kesulitan bernafas

Gejala klinis pada manusia antara lain :

  • Antrax tipe kulit umumnya ditandai dengan lesi (semacam borok)  yang khas dimulai dari bintil kecil berwarna merah, menimbulkan rasa gatal yang kemudian meluas dan terbentuk jaringan parut berwarna hitam
  • Pembengkakan kelenjar limfe regional
  • Infeksi menyeluruh dapat terjadi pada penyakit yang berlanjut Antrax tipe pernafasan umumnya diikuti dengan gejala sesak di daerah dada yang disertai dengan kebiruan dan umumnya diikuti kematian dalam waktu 24 jam
  • Antrax tipe abdominal ditandai dengan gejala demam, septikemia dan apabila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan kematian.

Pencegahan
Untuk mengurangi dan mencegah penyebarluasan penyakit antrax  dapat dilakukan dengan :

  • Pengawasan yang ketat (tindakan karantina) dari daerah tertular ke daerah bebas
  • Vaksinasi dengan vaksin spora avirulen secara teratur setiap tahun  daerah wabah
  • Isolasi hewan yang sakit atau diduga sakit dan isolasi daerah terjangkit penyakit
  • Hindari memberi pakan rumput dengan akarnya
  • Mengubur dan membakar bangkai ternak yang sakit atau diduga sakit
  • Desinfeksi kandang dan lingkungan sekitar kandang
  • Tidak melakukan kontak fisik dengan hewan tersangka penyakit antrax

Pengobatan hanya dapat dilakukan untuk penyakit pada tahap awal dengan pemberian antibiotika berspektrum luas seperti; Penisillin G, Oxytetracyclin atau Streptomycin Hewan yang menderita Antrax  dilarang keras untuk dipotong.Petunjuk Praktis

SEPTICHAEMIA EPIZOOTICA (SE/NGOROK)
Penyebab penyakit ini adalah kuman  Pastuerella multocida serotipe 6B dan 6 E, kuman ini suka hidup ditempat yang dingin dan lembab. Faktor pemicu terjadinya infeksi berupa; cekaman atau stess seperti terlalu banyak dipekerjakan, pemberian pakan yang berkualitas rendah, kandang yang penuh dan berdesakan, dan kondisi pengangkutan yang melelahkan pada ternak.

Penularan  dari hewan sakit ke hewan yang sehat atau pembawa  terjadi  melalui kontak makanan dan minuman serta alat-alat tercemar ekskreta hewan penderita (air liur, urin dan feses). Kuman yang jatuh ke tanah, bila mendapatkan kondisi yang lembab dan dingin dapat berkembang dan menulari hewan ternak yang digembalakan di tempat tersebut.

Gejala Klinis yang dapat diamati :

  • Keluar air liur terus menerus
  • Kesulitan bernafas (ngorok)
  • Kondisi tubuh lemah dan lesu
  • Suhu tubuh meningkat sampai diatas 41°C
  • Tubuh gemetar
  • Selaput lendir kemerahan
  • Terdapat busung pada kepala, tenggorokan, leher  bagian bawah sampai gelambir
  • Pada bentuk dada terdapat tanda-tanda peradangan  paru yang diikuti dengan keluarnya ingus dan kesulitan bernafas
  • Pada kondisi kronis hewan menjadi kurus dan sering batuk, nafsu makan tergangguPetunjuk Praktis

Pencegahan

  • Pada daerah bebas SE dilakukan karantina yang ketat terhadap pemasukan hewan ternak ke daerah tersebut.
  • Bagi daerah tertular dilakukan vaksinasi terhadap ternak yang sehat dengan oil adjuvant setidaknya setahun sekali.
  • Bangkai hewan yang sakit dibakar atau dikubur
  • Bersihkan kandang dengan disinfektan 
Pengobatan dilakukan dengan antibiotika Oxytetracyclin, Streptomycin atau Preparat sulfa (sulfamezathine).

Ternak yang tertular dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi dibawah pengawasan dokter hewan. Jaringan yang sudah rusak seperti paru-paru harus dibuang dan dimusnahkan dengan dibakar/dikubur. Karkas yang sangat kurus karena penyakit yang berjalan kronis dimusnahkan.

SURRA (TRYPANOSOMIASIS/Penyakit Mubeng)
Penyakit surra merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh protozoa  Trypanosoma evansi.  Parasit ini hidup dalam darah induk semang dan memperoleh glukosa sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah induk semangnya. Menurunnya kondisi tubuh akibat cekaman misalnya stress, kurang pakan, kelelahan, kedinginan dan sebagainya merupakan faktor yang memicu kejadian penyakit ini. Penularan  terjadi secara mekanis dengan perantaraan lalat penghisap darah seperti  Tabanidae, Stomoxys, Lyperosia, Charysops dan Hematobia serta jenis arthropoda yang lain seperti kutu dan pinjalPetunjuk Praktis

Gejala Klinis yang dapat diamati :

  • Gejala Umum meliputi demam, lesu, lemah, nafsu makan berkurang, lekas letih.
  • Anemia, kurus, bulu rontok, busung daerah dagu dan anggota gerak dan akhirnya akan mati.
  • Di daerah endemik ternak mungkin terkena infeksi tetapi tidak terlihat adanya gejala.
  • Keluar getah radang dari hidung dan mata.
  • Selaput lendir terlihat menguning.
  • Jalan sempoyongan, kejang dan berputar-putar (mubeng) disebabkan karena parasitberada dalam cairan  Cerebrospinal sehingga terjadi gangguan saraf.

Pencegahan dapat dilakukan dengan:

  • Pembasmian serangga penghisap darah dengan tindakan penyemprotan kandang dan ternak dengan Asuntol atau insektisida lain yang aman bagi ternak.
  • Pembersihan tempat yang basah dan rimbun.
  • Pengeringan tanah dan penertiban pembuangan kotoran dan sampah sisa makanan ternak.
  • Pemotongan hewan yang sakit di malam hari untuk menghindari lalat.
Ternak yang sakit dapat dipotong dan dikonsumsi dibawah pengawasan dokter hewan. Pengangkutan ternak sakit ke  Rumah Potong Hewan (RPH) hanya dapat dilakukan pada malam hari untuk menghindari penyebaran oleh lalat. Seluruh sisa pemotongan harus dibakar dan dikubur dalam-dalam setelah pemotongan, lokasi disuci Petunjuk Praktis hamakan dengan disinfektan. Kulit yang berasal dari hewan sakit harus disimpan dari tempat terlindung dari caplak, lalat atau nyamuk sekurang-kurangnya selama 24 jam atau disemprot dengan insektisida sebelum digunakan.

MALIGNANT CATHARRAL FEVER (MCF) atau Penyakit Ingusan
Agen penyebab penyakit ini digolongkan menjadi dua macam yaitu :
a. Herpes virus merupakan anggota dari sub famili Gamma herpesvirinae famili herpesviridea
b. Agen yang belum diketahui secara jelas klasifikasinyadan diperkirakan ditularkan oleh domba.
     Kedua penyebab penyakit ini menimbulkan gejala klinis yang sama

Kejadian penyakit akan lebih tinggi di daerah peternakan campuran antara sapi/kerbau dengan domba atau pada daerah padang penggembalaan dimana sapi, kerbau dan domba digembalakan secara bersamaan.
    
Domba, kambing dan berbagai jenis ruminansia lain tidak memperlihatkan gejala klinis tetapi diperkirakan menyebarkan bibit penyakit pada saat melahirkan. Domba diduga sebagai pembawa penyakit. Virus mampu menerobos placenta menuju janin. Virus yang terbebas dari sel bergerak menuju hidung dan mata dari hewan perantara muda yang kemudian menderita infeksi segera setelah lahir. Induk  semang akhir  (hewan sehat) tertular dengan menghirup percikan udara dari anak tersebut atau melalui pakan yang tercemar.

Gejala Klinis yang dapat diamati:

  • Demam tinggi 40 – 41°C
  • Keluarnya cairan dari hidung dan mata yang semula encer akhirnya menjadi kental dan mukopurulen.
  • Peradangan mulut dan  lepuhan di permukaan lidah sehingga air liur menetes.
  • Moncong kering dan pecah-pecah terisi nanah.
  • Hidung tersumbat  kerak sehingga kesulitan bernafas.
  • Kondisi badan menurun, lemah dan menjadi kurus.
  • Kornea mata keruh dan keputihan, dalam keadaan yang serius dapat menyebabkan kebutaan.
  • Kadang-kadang dapat terjadi radang kulit  berupa penebalan dan pengelupasan kulit.
  • Kadang-kadang terjadi sembelit yang diikuti oleh diare.
  • Gejala kelainan saraf timbul akibat peradangan otak.
  • Otot-otot menjadi gemetar, berjalan sempoyongan, torticolis dan bersifat agresif.
  • Terjadi kelumpuhan sebelum mati.
  • Kematian terjadi biasanya antara 4-13 hari setelah timbul gejala penyakit.Petunjuk Praktis

Pencegahan :

  • Hindari penggembalaan secara bersama antara sapi, kerbau dan domba pada satu lokasi.
  • Hindarkan pemasukan domba dari tempat lain karena domba adalah pembawa penyakit/carrier.
  • Meningkatkan sanitasi lingkungan dan tata laksana pemeliharaan ternak.
Pengobatan :

  • Pengobatan yang efektif belum ada.
  • Umumnya hewan yang sudah sakit tidak bisa diobati.
  • Usaha maksimal adalah pemberian antibiotik berspektrum luas untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
Ternak yang sakit dapat dipotong dan dikonsumsi dibawah pengawasan dokter hewan. Seluruh jaringan yang berjejas (mengalami karusakan) harus dibuang. Sisa hasil pemotongan harus dimusnahkan.

SCABIES (Budug, Manga, Kudis Menular)
Disebabkan oleh Tungau  Sarcoptes scabei, Chorioptes bovis serta kurangya kebersihan kandang dan ternak. Penularan penyakit ini terjadi melalui kontak langsung ternak sakit dengan sehat atau melalui peralatan kandang yang tercermar oleh Tungau. Penyakit ini merupakan penyakit yang bersifat  zoonosis (menular dari hewan ke manusia).

Gejala Klinis yang dapat diamati :

  • Hewan menggosok-gosokkan badan pada  dinding kandang serta menggigit-gigit bagian tubuh yang terserang penyakit sehingga terjadi luka-luka dan lecet.
  • Lepu-lepuh bernanah pada kulit.
  • Kerak pada permukaan kulit berwarna keabuan.
  • Kerontokan bulu.
  • Penebalan dan kekakuan kulit dapat lokal sampai meluas.
Pencegahan :

  • Letakkan kandang jauh dari tempat tinggal.
  • Sanitasi dan ventilasi kandang yang baik.
  • Pisahkan hewan sakit dengan hewan sehat.
  • Menghindari kontak langsung dengan ternak sakit.
Pengobatan :

  • Minyak kelapa yang dicampur  serbuk belerang dan kunyit dicampur dan dipanaskan, selanjutnya digosokkan pada kulit yang sakit selagi hangat.
  • Air tembakau.
  • Serbuk kamper atau kapur barus dicampur dengan minyak kelapa.
  • Ternak yang sakit dapat dipotong dan dikonsumsi dibawah pengawasan dokter hewan. Kulit yang mengandung Tungau segera dimusnahkan.
BOVINE EPHEMERAL FEVER (BEF / Demam Tiga Hari)
Penyakit ini disebabkan oleh  Virus BEF.  Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk  Cullicoides sp atau serangga penghisap darah.

Gejala Klinis :

  • Demam, lesu
  • Kekakuan anggota gerak sampai pincang
  • Kelemahan anggota gerak sampai tidak sanggup berdiri.
  • Keluar liur yang berlebihan
  • Sesak nafas
  • Gemetar
  • Keluar sedikit cairan dari mata dan hidung.
  • Pada sapi  menyusui, produksi air susu turun atau terhenti sama sekali
Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, pemakaian insektisida untuk membunuh nyamuk dan mengisolasi hewan yang sakit. Pengobatan sampai saat ini belum ada obat yang efektif. Ternak dapat dipotong dan dagingnya boleh dikonsumsi.


HELMINTHIASIS (Cacingan)
Diduga bahwa hampir semua sapi yang dipelihara secara tradisional pada kondisi petani terserang penyakit cacingan. Berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh serangan parasit cacing tergantung pada : Jenis  cacing, jumlah cacing yang menyerang,  umur sapi yang terserang dan kondisi pakan. Parasit cacing dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan:
1. Cacing Gilig (Nematoda)
2. Cacing Pita (Cestoda)
3. Cacing Hati (Trematoda)

Gejala cacingan sangat tergantung dari jenis cacing yang menyerang ternak sapi. Tetapi pada umumnya gejala cacingan dapat terlihat sebagai berikut:  badan kurus, bulu kusam dan berdiri, diare atau bahkan sembelit.

Untuk menyiasati harga obat yang mahal dan dampak/efek samping obat kimia yang tidak diharapkan maka perlu diupayakan obat-obatan tradisional.  Obatobatan tradisional juga mempunyai efektifitas yang tidak kalah dengan obat-obatan modern.

Contohnya penggunaan beberapa jenis tanaman yang tumbuh di sekitar area yang dapat digunakan sebagai obat cacing :

  • Buah pinang digongseng (goreng tanpa minyak) kemudian ditumbuk halus 1 sendok makan dicampur air 1 cangkir kemudian diberikan kepada ternak. Buah atau daun nenas diberikan kepada ternak sekitar 600 mg/kg BB setelah sebelumnya dibersihkan durinya. 
  • Buah atau daun nenas ini lebih efektif untuk cacing nematoda. Tetapi harus diingat pemberian daun atau buah nenas tidak boleh pada ternak yang sedang bunting.
  • Bawang putih yang biasa digunakan untuk memasak didapur juga mempunyai khasiat anti-cacing yang sangat efektif, terutama untuk melawan infestasi cacing Ascaris sp,  Enterobius dan semua jenis cacing paru-paru. Keuntungan lain dari bawang putih adalah adanya kandungan antibiotika alami yang sangat aman dan tidak meninggalkan residu di sapi, antibiotika ini akan berperan sebagai ”growth promotor” pada laju pertumbuhan sapi. Pada pengobatan sapi-sapi muda penggunaan bawang putih sangat disarankan karena tidak pernah ditemukan efek samping yang merugikan.
        
Pengendalian penyakit cacingan :

  1. Perhatikan kondisi lingkungan, daerah penggembalaan dan kandang, hindari tanah yang lembab dan basah atau banyak kubangan.
  2. Lakukan  penggembalaan bergilir, jangan menggunakan padang penggembalaan secara terus menerus.
  3. Jagalah kandang tetap bersih terutama dari sisa pakan, bila ada sisa pakan segera jauhkan dari kandang atau dibuat kompos.
  4. Segera lakukan pengobatan bila ada sapi yang menunjukkan gejala cacingan
DAFTAR PUSTAKA
Akoso.,B.T., Kesehatan Sapi. Panduan bagi petugas  teknos, mahasiswa, penyuluh dan peternak. 1996. Kanisius Yogyakarta. 
Anonimous. Live Cycle of Nematoda  Image.http//www.dpc.cdc.gov/dpdx. Diakses 
tanggal 18 Mei 2010
Anonimous. Live Cycle of Trematoda Image.  http//www.dpc.cdc.gov/dpdx. Diakses tanggal 18  Mei 2010
Daniels, P.W., Sudarisman, Purnomo.,R. Malignant Catarrhal Fever in Asian Livestock. 1988. Australian Center for International Agricultural Research. Canbera.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat. 2008. Situasi penyakit strategis di Nusa Tenggara Barat.
Goodwin, D.H. Beef management ad Production. 2007. Hutchinson. Australia. Pty Ltd. New South Wales.
Hungerford’s, T.G. Disease of Livestock. 2005.McGraw-Hill book Company. Sidney.
Jensen, R.,Donald.R.M., Disease of Feedlot Cattle. 1979. Third Edition. Lea & Febiger.Philadelphia. 
Subronto. Ilmu Penyakit Ternak .1995. Edisi I. Gadjah Mada University Press.